Monday, September 28, 2009

TETAP MELANGKAH

Mazmur 91:1-2
"Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa, akan berkata kepada TUHAN: "Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai."

Pernahkah Anda mengalami ketika sedang berada di jalan dan menuju suatu tempat ,tiba-tiba hujan turun? Saya pernah mengalaminya. Ketika itu saya sedang mau menuju gereja bersama dengan teman. Oleh karena dari tempat saya turun angkot sampai gereja harus dilalui dengan berjalan kaki, maka kami pun akhirnya berjalan.

Namun, di tengah perjalanan dan kami sedang mengobrol, air dari langit mulai turun rintik-rintik mengenai tubuh kami. Memang pada saat itu kami tahu, awan sedang mendung, tetapi kami tidak mengira bahwa hujan turun. Tak berapa lama kemudian hujan semakin deras dan terpaksa kami harus berteduh. Perjalanan kami menuju gereja pun berhenti sementara.

Dalam keadaan pakaian sedikit basah, kami berteduh sambil menunggu hujan benar-benar berhenti. Dan benar, sekitar 30 menit kemudian hujan berhenti. Kami pun melanjutkan perjalanan sampai akhirnya kami tiba juga di gereja. Pengalaman ini begitu membekas dalam hati saya dan setiap mengingatnya kehidupan rohani saya pun semakin bergairah di dalam Tuhan.

Dalam kehidupan ini, kita pasti menjumpai masalah demi masalah atau kondisi yang tidak mengenakkan. Seperti halnya hujan tadi yang dapat menghentikan langkah seseorang untuk menuju suatu tempat, masalah pun dapat menghentikan langkah kita. Namun, syukur kepada Allah karena Dia memberikan jalan keluar bagi kita agar bisa melewatinya.

Anda tidak perlu berlama-lama disibukkan dengan masalah yang sedang dihadapi saat ini, baik itu masalah di kantor, keluarga, sahabat, atau pasangan Anda sendiri. Allah yang hidup itu dan sekarang tinggal di dalam hati Anda, sudah memberikan jalan keluarnya. Oleh karenanya, tetaplah melangkah dan arahkan pandangan kepada Allah. Jangan biarkan iblis menang dan mengalihkan fokus Anda.

Cara terbaik untuk melihat apakah Tuhan tetap menyertai kehidupan kita adalah dengan tetap melangkah di dalam Tuhan.

Tuesday, September 15, 2009

BERBELA RASA

Ayat Inti kita Roma 12:15 " Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!"

Dua orang ibu mengobrol di sekolah seusai mengambil rapor anaknya. "Bagaimana hasilnya, Bu Diah?" tanya Ibu Dewi. Spontan Ibu Diah menceritakan prestasi anaknya dengan penuh semangat. Selain menjadi juara pertama, anaknya mendapat beasiswa untuk studi lanjut di luar negeri. Dengan bangga, Ibu Diah menceritakan kehebatan anaknya. Tak lupa ia sisipkan kiat-kiat jitunya dalam mendidik. Ibu Dewi diam saja, sampai Ibu Diah bertanya, "Bagaimana dengan anakmu?" Dengan sedih Ibu Dewi menjawab singkat, "Yah, anak saya tidak naik kelas." Lalu, ia pergi.


Kita bisa menyakiti hati orang lain tanpa kita sadari. Utamanya saat kita menempatkan diri sendiri "lebih" dari mereka. Tak jarang dalam percakapan, orang asyik membicarakan kehebatan dirinya, agar dipandang terhormat. Saat diri sendiri dijadikan pusat perhatian, kita buta akan suasana hati orang lain! Rasul Paulus berpesan agar kita "saling mendahului dalam memberi hormat". Yang ia maksud bukan sekadar menyapa lebih dulu, melainkan menempatkan orang lain di tempat utama. Saat berbicara, fokuskan perhatian sepenuhnya pada lawan bicara; pahami maksudnya; rasakan pergumulannya; baca suasana hatinya; tempatkan diri dalam posisinya.

Dengan cara itulah kita mampu berbela rasa. Bisa menangis dan tertawa bersama mereka. Itulah kasih sejati yang tidak pura-pura.
Cobalah periksa pola bicara kita akhir-akhir ini. Apakah kita suka mengarahkan pembicaraan pada diri sendiri? Berapa banyak kata "aku" yang kita ucapkan saat bicara? Jika jumlahnya terlalu banyak, ayo kurangi. Hari ini belajarlah berbela rasa

JADIKAN ORANG LAIN PUSAT PERHATIAN
BUKAN SEKEDAR PEMAIN FIGURAN

Tuesday, September 8, 2009

AYO..... KAMU BISA

Ayat bacaan: Ibrani 10:24====================="Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik."

Pertandingan tandang dan kandang dalam sebuah kompetisi sepak bola biasanya dianggap sebagai faktor penting. Ada istilah pemain ke duabelas yang disematkan ke pundak para suporter.Teriakan penyemangat dari mereka menjadi sumber motivasi yang kuat bagi tim tuan rumah untuk tetap berjuang meski berada pada posisi ketinggalan. Dalam sebuah wawancara dengan seorang pemain sepak bola, saya pernah membaca bahwa pada suatu kali si pemain ini mulai frustasi karena tidak kunjung bisa menerobos pertahanan lawan. Namun teriakan suporter yang memanggil-manggil namanya dengan tidak kenal lelah membuat dirinya bangkit dan akhirnya menjadi penentu kemenangan. Tidak jarang dukungan suporter menjadi faktor utama kemenangan sebuah tim sepak bola. Ini sebuah contoh nyata betapa manusia sebagai mahluk sosial tetaplah membutuhkan kehadiran orang lain yang bisa menyemangati atau mendorong untuk tidak menyerah dan terus maju. Sebuah iklan di televisi beberapa waktu lalu juga pernah menggambarkan hal ini lewat tagline "Ayo..kamu bisa!" Seperti apa yang terjadi di lapangan sepak bola, sebagai manusia kita pun seringkali seperti mendapat tenaga baru lewat dukungan dari teman-teman atau keluarga di saat kita mungkin sudah mulai "kehabisan bensin" dan berpikir untuk menyerah. Keterbatasan kita sebagai manusia yang secara natural sebenarnya lemah ini bisa membuat kita patah semangat, frustasi dan kemudian menyerah setiap saat. Di saat tekanan begitu intens menerpa kita bertubi-tubi, kita bisa melemahkan dan membuat kita kehilangan harapan. Di saat seperti ini kita butuh orang-orang yang peduli pada kita, yang mungkin mampu berkata, "teman, jangan khawatir, teruslah berjuang, aku tahu kamu bisa!" Dorongan semangat seperti ini sungguh sangat berarti bagaikan setetes embun di padang gurun. Mengingat kemampuan dan daya tahan manusia yang terbatas inilah sebuah pesan dari penulis Ibrani mengingatkan "Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik." (Ibrani 10:24). Saling memperhatikan, saling mendorong, saling support dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. We need a teamwork. Ketika yang satu lemah, yang lain menguatkan, begitu seterusnya. Bekerja sama, saling bahu membahu dan menguatkan, bukan sebaliknya saling iri, dengki dan menjatuhkan.

Penyemangat. Itu dibutuhkan semua orang tanpa terkecuali, apalagi dalam urusan iman. Hidup di dunia hari ini tidaklah gampang. Tekanan krisis dan rupa-rupa penyesatan hadir di mana-mana menekan kita dari setiap arah. Cepat atau lambat, tenaga kita akan melemah dan kita bisa menyerah, terjatuh dan masuk ke dalam jurang kegelapan. Di saat seperti inilah pesan Penulis Ibrani begitu penting. Artinya kebersamaan di antara saudara-saudari seiman haruslah terbina erat dalam dasar saling mengasihi, memperhatikan, mengingatkan dan menguatkan satu sama lain. Ini penting dalam menghadapi hari-hari yang sulit seperti apa yang kita hadapi saat ini. Karena itu kita harus tetap meluangkan waktu untuk berkumpul bersama-sama. "Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat." (ay 25). Hal ini sangatlah penting, begitu pentingnya sehingga bertolong-tolong dalam menanggung beban dikatakan sebagai memenuhi hukum Kristus. (Galatia 6:2).

Sepanjang Perjanjian Baru kita membaca berulang-ulang mengenai kepastian kedatangan Kristus untuk kali kedua. Selain apa yang kita baca dalam Galatia 6:2 diatas, ada beberapa ayat lain seperti "Tuhan sudah dekat!" (Filipi 4:5b). "..kedatangan Tuhan sudah dekat!" (Yakobus 5:8) dan tentu saja dalam kitab Wahyu, "Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upah-Ku untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya." (Wahyu 22:12). Adalah penting bagi kita untuk terus berjalan di jalur yang benar menjelang kedatangan Tuhan Yesus untuk kedua kalinya yang sudah dekat. Hingga kita akhirnya bisa berkata "Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman" (2 Timotius 4:7), dimana kemudian kita dianugerahkan mahkota kebenaran oleh Tuhan pada hariNya. (ay 8). Untuk itulah kita perlu saling menyemangati, saling mendorong, menasehati, menguatkan dalam kasih, agar jangan ada di antara kita yang tergelincir keluar dari jalur, sehingga kita semua bisa mencapai garis akhir dengan baik. Marilah kita mulai hari ini. Let us keep cheering each other in faith! Teruslah berjuang, anda hampir sampai! Waktunya sudah dekat! Ayo, kamu bisa!

Friday, September 4, 2009

BUANG SEMUA KEKUATIRAN


Kekuatiran dalam hati membungkukkan orang, tetapi perkataan yang baik menggembirakan dia.” Amsal 12:25


Saat ini kekuatiran melanda banyak orang. Macam-macam hal yang dikuatirkan : ekonomi keluarga, studi, pasangan hidup atau masa depan. Apalagi banyak informasi dari berbagai media tentang keadaan yang semakin memprihatinkan seperti konflik antarnegara yang tidak kunjung usai, bencana alam, wabah penyakit dan juga krisis ekonomi global. Sangatlah manusiawi bila semua orang semakin kuatir dalam menjalani hidup ini.


Sebenamya perasaan kuatir itu muncul bukan akibat besar kecilnya masalah atau tantangan yang dihadapi, melainkan ketika orang cenderung mengandalkan kekuatan diri sendiri. Kekuatiran itu sendiri merupakan kegagalan seseorang dalam menghadapi tantangan sebelum melakukan peperangan. Rasa kuatir ini tidak hanya dialami orang dunia saja, orang Kristen pun mengalami hal yang sama, seolah-olah tidak ada pengharapan. Firman-Nya jelas menyatakan bahwa Tuhan menjamin masa depan anak-anakNya yang senantiasa bersandar dan berharap kepada Dia, “Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.” (Amsal 23:18). Ingat! Kekuatiran merupakan celah dalam kehidupan kita yang memberikan kesempatan kepada kuasa jahat untuk menggagalkan dan menghancurkan kita.


Di tengah dunia yang makin sulit dan penuh tantangan ini kita harus makin sungguh-sungguh melekat pada Tuhan dan tekun tinggal dalam Dia. Jadi, “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” (1 Petrus 5:7). Bunga bakung saja yang tidak bekerja dan memintal didandani Tuhan sedemikian rupa walaupun hari ini ada dan esok dibuang. Apalagi kita, ciptaan paling mulia di antara segala ciptaan-Nya yang adalah biji mata Tuhan sendiri. Seberat apa pun pencobaan kita, percayalah semuanya itu tidak melebihi kekuatan kita, justru semakin menguatkan otot-otot iman kita kepada Tuhan karena Dia sanggup menolong dan memberkati kita dengan cara-Nya yang ajaib. “Seperti tingginya langit dan bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” (Yesaya 55:9).


Jangan kuatir, apalagi menyerah pada keadaan, karena ada Yesus yang senantiasa menyertai dan memelihara hidup kita sampai akhir zaman!