Thursday, October 29, 2009

CINTA YANG TAK BERKESUDAHAN


Ada seorang pria yang memiliki kekasih yang sangat dicintainya dengan sepenuh hati. Apapun dilakukan demi menunjukkan rasa cintanya pada permata hatinya ini. Suatu saat, pria ini berkata kepada kekasihnya, "kekasihku, aku akan memberikan apapun yang kamu minta, asalkan aku menilai hal itu baik buatmu. Karena aku tidak ingin melihat engkau kecewa dengan pilihanmu yang salah".

Hari demi hari berlalu mengiringi perjalanan cinta mereka. Pria ini tak pernah memalingkan hatinya atau melupakan kekasihnya. Sementara sang wanita merasa berbahagia memiliki pria ini. Hingga suatu hari, wanita ini meminta sesuatu dari kekasihnya. Dia menginginkan sebuah kalung dengan berlian pada liontinnya. Ketika pia ini mendengar permintaan kekasihnya, dia menolak. Dia berkata," kekasihku, bukannya aku tidak mau atau tidak bisa membelikanmu kalung itu. Tapi sangat berbahaya bila engkau memakai kalung itu. Bila ada orang yang gelap mata, dia akan merampas kalung itu dan kalau itu terjadi, bukan hanya kamu yang celaka, aku juga akan sangat menderita melihatmu seperti itu. Aku hanya tidak mau kamu mendapat celaka". Tapi kekasihnya terus meminta kalung itu dan tidak mau mendengar nasehatnya. Akhirnya kalung itu pun dibeli dan dipakai oleh sang wanita.

Selang beberapa hari, apa yang ditakutkan oleh pria ini benar-benar terjadi. Ada 2 orang penjahat yang merampas kalung itu saat kekasihnya sedang mengendarai motor. Kalung itu pun terampas dan wanita ini terjatuh dari motornya. Mendengar berita ini,si pria langsung menemui kekasihnya, membawanya pulang dan mengobati lukanya. Dengan menangis, pria ini berkata," Mengapa engkau tidak mau menuruti kata-kataku? Engkau mendapat celaka seperti ini, aku merasa sepuluh kali lebih sakit daripadamu". Wanita ini menangis, dia menyesal dan berkata, "maafkan aku, aku bersalah padamu karena tidak mendengar perkataanmu dan menuruti keinginanku sendiri. Aku menyesal. Maukah engkau memaafkan aku?". Dengan penuh cinta kasih pria ini memeluk kekasihnya dan berkata, "Aku memaafkanmu sejak tadi, Aku bahagia karena aku bisa memelukmu dalam keadaan engkau masih hidup. Mulai sekarang, turutilah perkataanku karena aku tidak pernah akan membuatmu celaka". Kekasihnya mengangguk dan mereka menangis bahagia...

SOBAT.. Bukankah cerita itu mirip dengan hidup kita sehari-hari yang kita lewati bersama TUHAN? Tuhan adalah pria itu dan kita adalah sang wanita. Ketika awal kita mengenal DIA, kita berkobar-kobar dan melalui setiap detik dalam hidup dengan bahagia. Tetapi dengan berjalannya waktu, saat kita menginginkan sesuatu dan memohon padaNYA, seringkali permohonan kita tidak sesuai dengan kehendak TUHAN. Tapi kita terus memaksa dan merengek seperti anak kecil. Saat TUHAN benar-benar mengabulkan permohonan kita, belum tentu itu baik buat kita. Malah bisa-bisa kita kecewa karena menuruti keinginan kita sendiri. Saat itu terjadi, barulah kita ingat padaNYA, kita menyesal dan minta ampun.

Beruntunglah karena kita memiliki ALLAH yang Maha Pengampun. Dia tidak pernah menolak bila kita memohon ampun atas semua kesalahan dan kekerasan hati kita.
TUHAN tidak pernah meninggalkan kita. Tetapi seringkali kita yang meninggalkanNYA. Dan apa yang DIA lakukan? Denga sabar DIA menunggu kita kembali padaNYA
SOBAT, ingatlah :
Saat kita berhenti melangkah jauh dariNYA, maka DIA tersenyum...
Saat kita menoleh padaNYA, maka DIA tertawa...
Saat kita berbalik padaNYA, maka DIA membuka kedua tanganNYA...
Saat kita melangkah 1 Langkah ke arahNYA, maka DIA akan BERLARI 1000 LANGKAH MENGHAMPIRI KITA....
Sungguh cintaNYA pada kita takkan pernah berkesudahan.. PRAISE THE LORD

Friday, October 23, 2009

Menjadi Orang Bersemangat dan Optimis Menghadapi Masalah

Menjadi Orang Bersemangat dan Optimis Menghadapi MasalahOrang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa yang akan memulihkan semangat yang patah?” Amsal 18:14

Beragam persoalan bisa menimpa siapa saja. Entah orang kaya atau miskin, tua atau muda, setiap orang selama hidup di dunia ini selalu berhadapan dengan berbagai persoalan. Setiap orang, terlepas dari status sosial, pendidikan, profesinya, dan bahkan sebagai hamba Tuhanpun tidak terluput dari yang namanya pergumulan atau persoalan. Manusia harus berhadapan dengan masalah selama hidup di dunia ini. Setiap orang tentunya memiliki persoalan yang berbeda-beda.

Kita tidak boleh menyerah, walau badai apapun yang sedang menerpa. Sebab pencobaan yang kita alami tidak pernah melebihi kekuatan kita, seperti yang disebutkan dalam Firman Tuhan.

Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya” 1 Kor 10:13
*courtesy of PelitaHidup.com
Allah itu baik. Dia sahabat kita, dalam segala susah Dia selalu datang menghibur. Biasanya ada beberapa hambatan-hambatan dalam meraih sebuah keberhasilan adalah antara lain, sikap yang putus asa, patah semangat, menyerah, keinginan untuk mundur, dan lain sebagainya. Kalau sikap seperti ini dibiarkan akan membuat seseorang itu menjadi frustrasi, dan tetap tinggal dalam masalahnya. Dalam menghadapi setiap masalah, kita membutuhkan sebuah semangat untuk berjuang dan bangkit, dengan pertolongan Tuhan agar kita sampai pada tujuan yang diinginkan.

Dalam cerita di Alkitab kita dapat melihat sebuah kondisi yang mengisahkan seseorang yang tidak lagi bersemangat dalam hidupnya, yaitu kisah nabi Elia. Keberhasilan Elia membunuh 450 orang nabi baal seorang diri membuat Izebel marah dan bermaksud membunuhnya. Mendengar berita itu, larilah Elia untuk menyelamatkan diri, ia dalam ketakutan, putus asa dan patah semangat. Ia lari ke gunung Horeb untuk bersembunyi.

.

Ada beberapa kondisi yang dialami nabi Elia ini, yaitu:

Menjadi Orang Bersemangat dan Optimis Menghadapi Masalaha). Ia kelelahan, lelah jasmani setelah perjalanan panjang, empat puluh hari, empat puluh malam lamanya sampai ke gunung Allah, yaitu gunung horeb.
*courtesy of PelitaHidup.com
Kemudian ia ingin mati, katanya: “Cukuplah itu! Sekarang, ya Tuhan, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik daripada nenek moyangku” 1 Raj 19:4b.

b). Ia merasa telah gagal membuat bangsa Israel untuk bertobat,

c). Ia merasa kesepian, hanya seorang diri saja dalam pergumulan untuk kebenaran Allah.

Jawabnya: “Aku bekerja segiat-giatNya bagi Tuhan, Allah semesta alam,karena orang Israel meninggalkan perjanjianMu, meruntuhkan mezbah-mezbahMu dan membunuh nabi-nabiMu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup, dan mereka ingin mencabut nyawaku” 1 Raj19:10

Allah tidak tinggal diam, Ia tetap memperhatikan Elia yang sedang patah semangat itu. Ia membiarkan Elia istirahat dan tertidur, kemudian Allah mengirim malaikatNya untuk memberi makan Elia. Allah juga datang untuk memberikan semangat kepadanya dan memperkuat imannya di gunung Horeb itu. Allah sesungguhnya tidak akan meninggalkan nabi ataupun umat-Nya yang setia.
*courtesy of PelitaHidup.com
Firman Tuhan kepadanya:”, pergilah, kembalilah ke jalanmu, melalui padang gurun ke Damsyik, dan setelah engkau sampai, engkau harus mengurapi Elisa bin Safat, dari Abel Mehola, menjadi nabi menggantikan Engkau” 1 Raj 19:15-16

Ketika anak-anak Tuhan putus asa dimanapun mereka berada, melalui Yesus Kristus mereka dapat memohon kepada Allah, untuk menerima kekuatan dan semangat agar mampu menghadapi situasi.

Orang yang bersemangat adalah orang yang tidak mau menyerah, dan tidak mau terpengaruh oleh keadaan, sekalipun hal itu kurang baik. Tindakan/perbuatannya tidak ditentukan atau dipengaruhi oleh keadaan. Mengapa demikian ? Karena, ia memiliki target dan tujuan yang ingin dicapainya. Orang yang bersemangat akan tetap optimis, mereka percaya karena bersama dengan Allah akan mampu untuk menghadapi setiap kesukaran.

Segala perkara dapat kutanggung didalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” Fil 4:13

Orang yang bersemangat memiliki iman, tetap percaya pada Firman Allah yang berkuasa. Jadilah orang yang bersemangat dalam hidup ini, apapun kondisi yang sedang terjadi, tetap miliki semangat. Semangat sangat diperlukan untuk memperoleh apa yang ingin kita capai. Karena dengan bersemangat kita akan tetap mengarahkan pandangan kita kepada tujuan, dan ada usaha untuk mencapainya.

.

Untuk menjadi orang yang bersemangat yang selalu optimis, kita memerlukan:

1. Keberanian bertindak untuk mengambil resiko

Menjadi Orang Bersemangat dan Optimis Menghadapi MasalahOrang yang bersemangat memiliki keberanian untuk bertindak. Siap hidup dan siap mati, mereka tidak takut dan gemetar karena mempunyai ketetapan hati yang mantap. Ingat, bagaimana kisah Sadrakh, Mesakh dan Abednego ? Ada sebuah perintah yang telah dibuat bahwa ketika mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi atau alat musik lainnya maka haruslah setiap orang sujud menyembah patung yang telah didirikan oleh raja Nebukadnezar. Mereka tidak mau menyembah patung yang telah didirikan oleh raja Nebukadnezar tersebut.

Dalam Kitab Daniel 3:6 Siapa yang tidak sujud menyembah, akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala.

Didapatilah bahwa mereka tidak mengindahkan titah itu, mereka tidak mau memuja dan menyembah patung tersebut. Adalah sebuah ancaman bagi mereka, dengan resiko mereka harus dimasukkan kedalam perapian. Mereka tidak khawatir, cemas dan takut, malah dengan berani untuk menerima hukuman itu. Mereka tetap mempertahankan iman yang mereka percayai.

Beginilah yang mereka ucapkan kepada raja itu, Daniel 3:17-18 Jika Allah yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu ya raja. Tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memujja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.

Mereka berani berkata tidak dan merekapun berani bertindak menerima hukuman yang sudah ditetapkan itu. Dengan amarah raja itu memerintahkan supaya perapian dibuat tujuh kali lebih panas dari biasanya, dan ketika mereka dicampakkan kedalam api, mereka tidak terbakar, rambut di kepala mereka tidak hangus, bahkan bau kebakaranpun tidak ada.

Lalu Nebukadnezar mendekati pintu perapian yang menyala-nyala itu ; berkatala ia: “Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, hamba-hamba Allah yang maha tinggi, keluarlah dan datanglah kemari!” Dan 3:26

Merekapun keluar dengan selamat dari perapian , Tuhan menyertai mereka. Dengan berani mereka mengatakan sekalipun Allah tidak menolong, mereka siap untuk mati bagi Tuhan. Tetapi Tuhan tidak tinggal diam, mereka diluputkan dari panas api itu, mereka tidak terbakar, tidak ada bau hangus, mereka tetap utuh seperti sediakala.

Apabila engkau berjalan melalui api engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau.” Yes 43:2b

Kalau kita berani bertindak lakukan sesuatu kebenaran, Tuhan pasti menolong, Tuhan juga pasti membela FirmanNya. Jadi, jangan takut, hadapilah setiap persoalan, jangan lari, Tuhan memberi kekuatan agar kita dapat meraih keberhasilan.

.

2. Sikap tidak mau menyerah

Tidak Mau MenyerahDalam Alkitab ada sebuah cerita tentang seorang perempuan yang sudah 12 tahun menderita pendarahan. Perempuan ini sudah diobati oleh berbagai-bagai tabib, namun keadaannya makin memburuk. Perempuan ini tidak putus asa, ia tetap memiliki semangat untuk sembuh. Tatkala ia mendengar berita tentang Yesus Sang Penyembuh itu, iapun berusaha untuk mencari Yesus, sebab ia yakin Yesuslah yang dapat menolong untuk menyembuhkannya.

Perempuan ini adalah orang yang bersemangat. Ketika Yesus dalam perjalanan menuju rumah kepala ibadat, ditengah kerumunan banyak orang, perempuan ini berusaha untuk menghampiri Yesus agar menerima kesembuhan dariNya. Perempuan ini tidak mau menyerah, dia tetap memiliki semangat, dia terus berjalan untuk menghampiri Yesus sekalipun ia sedang dalam penderitaan, mungkin ia berjalan tidak seperti orang normal karena penyakitnya itu, jalannya lambat tapi ia terus berusaha untuk maju mendekati Yesus dari arah belakang.

Perempuan ini mempunyai suatu tujuan untuk sembuh, ia memiliki iman, “Karena katanya dalam hatinya:”Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” (Mat 9:21). Setelah hal itu dilakukannya iapun menjadi sembuh. Jerih payahnya tidak sia-sia. Ia berhasil, ia sembuh. Setiap orang yang mau mendekatkan diri kepada Yesus tidak akan menyerah, tetap berjuang sampai memperoleh apa yang ingin dicapai.

Tetapi kamu ini, kuatkanlah hatimu, jangan lemah semangatmu, karena ada upah bagi usahamu” 2 Taw 15:7

Dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sunggguh-sungguh mencari Dia” Ibr 11:6b

Kalau semangatmu sedang lemah, bangkitlah mencari Tuhan, dengan berdoa, membaca Firman Allah, mengikuti ibadah dan memuji menyembah Dia. Pasti ada kekuatan baru dan upah yang akan diberikanNya, itu janjiNya.

.

3. Iman yang teguh

Menjadi Orang Bersemangat dan Optimis Menghadapi MasalahRasul Paulus setelah pertobatannya, memberikan hidupnya untuk melayani Tuhan, ia memenuhi panggilan Tuhan sebagi salah satu rasul yang ikut menderita bagi Kristus.

Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.” 2 Kor 4:8

Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian.” 2 Kor 11:27

Dalam mengiring Yesus, Paulus banyak sekali mengalami penderitaan dan aniaya. Paulus juga mengalami kesedihan, ia ditinggalkan oleh teman-temannya.

Pada waktu pembelaanku yang pertama, tidak seorangpun yang membantu aku, semuanya meninggalkan aku, Tetapi Tuhan mendampingi aku dan menguatkan aku, supaya dengan perantaraanku Injil diberitakan, Dan Tuhan akan melepaskan aku, dari setiap usaha yang jahat, Dia akan menyelamatkan aku, sehingga aku masuk ke dalam kerajaanNya di Sorga. Bagilah kemuliaan selama-lamanya”. 2Tim 4:16-18

Di Roma pada saat itu sedang terjadi penganiayaan yang hebat, dan tidak ada seorangpun yang berani mengakui mengenal rasul Paulus. Paulus merasa kesepian dan kecewa, namun ia tetap merasakan kehadiran Tuhan, yang memberikan kekuatan padanya. Paulus mengakui bahwa ia mempunyai keyakinan yang kokoh, sebab Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya. Paulus sanggup menghadapi dan mengatasi segala rintangan sebab ada Tuhan yang selalu memberi pertolongan dan kekuatan baginya. Karena iman yang teguh Rasul Paulus tetap berjuang, dan bahkan setia sampai mati bagi Tuhan.

Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang Adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.” 2 Tim 4:7-8

Apapun keadaan yang kini tengah kita hadapi, kita tidak boleh hilang pengharapan, putus asa atau melepaskan iman saat menghadapi berbagai masalah. Hadapilah semua bersama Tuhan, kita akan dapat mengalami pengalaman-pengalaman yang baru bersama Tuhan. Setiap Firman Tuhan yang kita butuhkan terjadi atas kita, harus tetap kita percaya, sebab ada firman Tuhan tertulis:

Aku tidak akan melanggar perjanjian-Ku, dan apa yang keluar dari bibir-Ku tidak akan Kuubah” Maz 89:35

Semua yang Tuhan janjikan itu melalui Firman-Nya, tidak akan ditarik kembali, dan Tuhan tidak mengingkari Janji-Nya itu. Arahkan pandangan, pikiran dan hati kepada FirmanNya, sebab itulah kebenaran yang akan memulihkan kita. Allah itu sangat baik.

Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya” Maz 34:19.

Kita harus percaya pada Firman-Nya. Supaya iman tetap teguh, baca, renungkan dan perkatakanlah Firman Tuhan itu kepada diri kita sendiri maupun kepada orang lain.

Semangat merupakan jalan untuk memperoleh apa yang kita butuhkan. Tetaplah bersemangat, miliki keberanian untuk melakukan Firman Allah, jangan pernah menyerah dan tetap teguh pegang janji Tuhan sampai menjadi sebuah kenyataan. Tuhan memulihkan setiap semangat yang patah. Orang yang bersemangat akan selalu optimis dalam menghadapi setiap persoalan, untuk meraih keberhasilan. Selamat berjuang dan tetap semangat, Tuhan Yesus memberkati kita semuanya.

.

Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya, sebab waktunya sudah dekat” Wahyu 1:3.

Tuesday, October 20, 2009

ALLAH ITU BAIK

Berbagai masalah kita hadapi setiap hari, bukan? Kadang-kadang kita gembira, kadang-kadang kita cemas. Kegagalan sering membawa suasana suram, kecewa, yang tidak jarang disertai dengan air mata. Namun, sering pula kita alami bahwa kepahitan dapat menjadi dorongan untuk mencapai sukses. Dari kegagalan, orang belajar menimba hal-hal yang baik. Dan orang ini tidak canggung apabila kesulitan-kesulitan itu menerpa hidupnya.

George Frederick Handel mengalami ketika pada suatu saat kesehatan dan keuangannya berada pada titik rendah, ia bangkit dan melejit mencapai klimaks dari pengalaman kreatifnya. Ketika para pemberi pinjaman mengancam akan memenjarakannya, dan ia saat itu menderita lumpuh sebagian, ia lalu pergi mengasingkan diri dengan Allah dan ia bergumul dalam doa seperti belum pernah dialaminya sebelumnya.

Pada saat itu Tuhan menjawab kemelut hidupnya dan Tuhan memampukan dia untuk menulis oratorium terbesar yang berjudul Mesias. Gubahan itu keluar, mengalir dari penanya dan menjadi karya yang dikagumi sepanjang abad.

Menjadi orang Kristen tidak berarti bahwa kita akan dibawa melalui kehidupan yang penuh kemudahan. Hidup itu penuh dengan perjuangan. Berbagai rintangan dan kesulitan akan kita hadapi tatkala kita mengikut Kristus. Jika dasar iman kita lemah, maka kita akan mudah terombang-ambing. Kemampuan kita terbatas bukan? Tanpa pertolongan Tuhan, kita tidak akan mampu menghadapinya. Tuhan sering juga memakai kesulitan-kesulitan dalam hidup untuk meningkatkan iman kita. Melalui campur tangan Allah, kehilangan-kehilangan diubah-Nya menjadi berkat baik untuk kita, demikian juga bagi orang lain.

Betapa terhibur dan menguatkan ketika kita mengetahui bahwa dalam segala hal, bahkan dalam kesulitan kita, Allah turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi Dia (Roma 8:28).

Monday, October 19, 2009

TUHAN SUMBER BERKAT

“Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran!” Yesaya 55:1

Pertolongan bersumber dari Tuhan; inisiatif untuk memberi pengharapan datang dari Tuhan juga, dan bagian manusia adalah meresponsnya. Dalam ayat pertama dikatakan ”Ayo...” yang artinya suatu ajakan atau undangan untuk kita semua, sebab Tuhan sangat memperhatikan kebutuhan hidup kita. Tuhan tahu ketika kita dalam keadaan kekurangan. Oleh karena itu Tuhan memberikan semua itu dengan cuma-cuma alias gratis.

Banyak orang tidak mengerti rahasia untuk meraih berkat-berkat Tuhan tersebut sehingga mereka mencoba mencari pertolongan dan pengharapan di luar Tuhan. Padahal pertolongan dan pengharapan dari dunia ini hanya bersifat semu. Seringkali manusia berpikir bahwa harta kekayaan, pangkat dan kepandaian dapat mengatasi masalah dalam hidup ini. Tuhan jelas menyatakan, ”...di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yohanes 15:5b). Ingat, kekuatan manusia itu ada batasnya dan semua harta benda yang kita miliki di dunia ini bisa habis lenyap dalam sekejap mata karena ”...di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya.” (Matius 6:19b). Tetapi dalam Tuhan kita akan mendapatkan berkat dan jaminan hidup yang tidak dimiliki orang-orang di luar Dia. Yesus sendiri berkata, ”Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” (Yohanes 10:10b).

Ada pun kunci untuk dapat menikmati berkat-berkat Tuhan adalah: 1. Kita harus memiliki telinga yang senantiasa dengar-dengaran akan firmanNya (Yesaya 55:3). Kita harus mau melangkah untuk melakukan kehendak Tuhan (hidup dalam ketaatan). ”Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firmanKu tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” (Yohanes 15:7). 2. Kita harus mencari Tuhan dan selalu berharap padaNya (Yesaya 55:6). Kita harus membangun kekariban dengan Tuhan, serta mempercayakan hidup ini sepenuhnya kepadaNya, bukan kepada yang lain.

Apa pun yang kita perlukan, Tuhan pasti sanggup menyediakan, asal kita mau mengerjakan bagian kita.

Sunday, October 18, 2009

HIDUP BERKENAN KEPADA ALLAH


Tidak tahukah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.“ Yakobus 4:4

Keadaan dunia yang semakin tidak menentu menuntut manusia agar selalu menyesuaikan dirinya dengan keadaan dan lingkungannya. Tidak terkecuali umat Tuhan. Banyak umat Tuhan yang ikut berkompromi dengan cara-cara dunia agar mereka dapat diterima atau bahkan dapat mencapai sukses di dalam hidupnya.

Tetapi Alkitab mencatat bahwa persahabatan dengan dunia merupakan permusuhan dengan Allah. Karena manusia tidak dapat mengabdi kepada dua tuan (Mat 6:24).

Bagaimana supaya kita tidak tercemar oleh keadaan dunia ini sehingga menjadi umat yang berkenan kepada Allah ?

1. Tunduk Kepada Allah

“Karena itu tunduklah kepada Alah …” Yak 4:7a

Kita harus tunduk di bawah kehendak Allah yang sempurna. Miliki roh penundukan diri di hadapan Allah (submission spirit).

Biarlah kita melakukan apa yang berkenan di hati Allah (Gal 1:10).

Lakukan apa yang menyukakan hati Tuhan. Dan biarlah ini yang selalu menjadi kerinduan bagi kita setiap saat. Apapun yang kita lakukan, lakukanlah itu untuk Tuhan (Kol 3:23).

Kuasailah dirimu (1 Pet 4:7) dan jangan kompromi dengan cara-cara dunia.

2. Lawan si Iblis

“…lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu !” Yak 4:7b

Iblis sudah hidup ribuan tahun. Dan dia mempunyai banyak cara untuk menjatuhkan umat Tuhan. Tapi ada satu hal yang dia takuti, yaitu umat Allah yang tunduk kepada Allah dan melawan dia (iblis).

Pakailah seluruh perlengkapan senjata Allah (Ef 6:10-18); kuasa doa, kekuatan iman, pedang bermata dua yaitu firmanNya, untuk melawan si iblis.

Tolak segala cara-cara dunia yang tidak berkenan di hadapan Allah. Iblis tidak akan tahan terhadap perlawanan umat Tuhan.

Kuasa darah Yesus terlalu besar untuk dikalahkan (1 Kor 15:54-55). Iblis akan takut dan lari daripada kita.

Penundukan diri kepada kehendak Allah dan perlawanan kepada si iblis akan membuat kita tidak tercemar oleh keadaan dunia ini.

Dan pada akhirnya kita akan kedapatan kudus, tidak bercacat dan berkenan di hadapan Allah.

Friday, October 16, 2009

Pertolongan Dari Tuhan


Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.” Mazmur 121:1-2

Hidup manusia penuh dengan banyak masalah. Masalah bisa datang silih berganti tanpa memandang status sosial. Bahaya juga senantiasa mengancam kehidupan kita. Oleh karena itu banyak sekali manusia yang senantiasa mencari perlindungan bagi hidup mereka. Mereka berusaha agar hidup mereka dapat selalu aman dan terlepas dari segala masalah. Di jaman sekarang ini juga banyak sekali tawaran-tawaran alternatif agar kita dapat terlepas dari masalah ataupun bahaya.

Sebagai umat Tuhan, kita harus cukup selektif dalam hal ini. Jangan sampai masalah yang kita hadapi membuat kita menghalalkan segala cara agar kita bisa mendapat pertolongan atau perlindungan. Dalam Yer 17:5 Firman Tuhan berkata bahwa terkutuklah orang yang mengandalkan manusia dan kekuatannya. Tuhan mau agar kita senantiasa mengandalkan Dia dalam setiap langkah hidup kita.
*courtesy of PelitaHidup.com
Bergantung sepenuhnya kepada pertolongan Tuhan bukanlah suatu hal yang mudah seperti membalikkan telapak tangan. Seringkali masa-masa kita menunggu jawaban Tuhan merupakan masa yang rawan terhadap berbagai jalan keluar yang ditawarkan oleh dunia ini. Kita harus tetap bertahan kepada iman kita terhadap Yesus.

Kalau begitu apa yang harus kita lakukan agar kita tetap berharap kepada pertolongan dari Tuhan?

1. Yakinlah Tuhan tidak pernah meninggalkan kita

“Ia takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap. Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel.” Maz 121:3-4

Seberapa lama waktu yang kita lalui dalam menghadapi suatu masalah tidak mempengaruhi kesetiaan Tuhan untuk menyertai kita. Tidak sekalipun Dia meninggalkan kita, bahkan Dia tidak pernah tertidur membiarkan kita sendirian.
*courtesy of PelitaHidup.com
Tetapi yang sering kita alami, kita merasa bahwa Tuhan telah meninggalkan kita. Cukup banyak umat Tuhan yang akhirnya kecewa oleh karena mereka merasa bahwa Tuhan telah meninggalkan mereka dan ingkar janji. Tuhan yang kita sembah bukanlah Tuhan yang instan. Tuhan menginjinkan segala sesuatu terjadi dalam kehidupan kita untuk menguji kesetiaan kita.

“Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” ” Ibr 13:5b

Firman Tuhan mengatakan bahwa Dia tidak pernah sekalipun membiarkan kita sendiri. Ini merupakan janji Tuhan bagi kita. Jangan bergantung kepada perasaan kita yang menganggap bahwa Tuhan telah meninggalkan kita dan bahkan tidak mendengar doa kita. Jangan menjadikan perasaan sebagai standar dari iman kita, karena perasaan mudah berubah sesuai dengan keadaan. Tetapi iman adalah bukti dari segala sesuatu yang kita harapkan, bukti dari segala sesuatu yang tidak kelihatan (Ibr 11:1).

Kalaupun kelihatannya Tuhan begitu jauh, kita harus meng-imani bahwa Tuhan tetap ada di dalam hati kita. Dan Dia tidak pernah berlambat-lambat untuk menggenapi firmanNya.

2. Yakinlah bahwa perlindungan Tuhan itu nyata
*courtesy of PelitaHidup.com
“Matahari tidak menyakiti engkau pada waktu siang, atau bulan pada waktu malam. TUHAN akan menjaga engkau terhadap segala kecelakaan; Ia akan menjaga nyawamu. ” Maz 121: 6-7

Ketika kita mengandalkan Tuhan dalam setiap langkah hidup kita, Dia memberikan perlindungan atas seluruh hidup kita. Dia akan menjaga hidup kita dari segala marabahaya. Kita tidak bisa mengandalkan kekuatan manusia untuk menjaga setiap langkah kita. Ketika kita sudah hati-hatipun bahaya masih bisa menghadang, entah itu kecelakaan lalu lintas, bencana alam, dan lain sebagainya. Kita tidak bisa melindungi anak-anak kita selama 24 jam, kita tidak bisa menjaga harta benda kita juga setiap saat.

Tetapi Firman Tuhan memberikan jaminan bagi kita bahwa Dia akan menjaga kita dari segala kecelakaan. Dia akan berjaga-jaga atas nyawa kita. Dia akan melindungi setiap umatNya.

“TUHAN itu kekuatanku dan mazmurku; Ia telah menjadi keselamatanku.

Suara sorak-sorai dan kemenangan di kemah orang-orang benar: ”Tangan kanan TUHAN melakukan keperkasaan,

tangan kanan TUHAN berkuasa meninggikan, tangan kanan TUHAN melakukan keperkasaan!”

Aku tidak akan mati, tetapi hidup, dan aku akan menceritakan perbuatan-perbuatan TUHAN.” Maz 118:14-17

Friday, October 9, 2009

3 Rahasia Untuk Terlepas Dari Belenggu Masalah


Akan tetapi terjadilah gempa bumi yang hebat, sehingga sendi-sendi penjara itu goyah; dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semua ” Kisah Para Rasul 16:26

Filipi, suatu kota di daerah Makedonia, merupakan salah satu tujuan Rasul Paulus dan rekannya Silas dalam pelayanan misi mereka. Seperti halnya di tempat lain, di kota ini Paulus juga mendapat tentangan dari orang-orang yang tidak suka akan pemberitaan injil. Bahkan mereka ditangkap dan didera, kemudian dimasukkan ke dalam penjara.

Setelah mereka berkali-kali didera, mereka dilemparkan ke dalam penjara. Kepala penjara diperintahkan untuk menjaga mereka dengan sungguh-sungguh. Sesuai dengan perintah itu, kepala penjara memasukkan mereka ke ruang penjara yang paling tengah dan membelenggu kaki mereka dalam pasungan yang kuat.” Kis 16:23-24
*courtesy of PelitaHidup.com
Keadaan ini tidak mempengaruhi semangat Paulus dalam mengikut Yesus ataupun memberitakan injil. Bahkan kita akan melihat bahwa belenggu maupun penjara tidak dapat membungkam dan menghalangi pelayanan mereka.

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak sekali belenggu dosa maupun masalah yang mengikat kehidupan kita. Bahkan hidup kita seperti terpenjara, sehingga kita merasa bahwa kita tidak sanggup lagi berbuat apa-apa. Pengharapan hilang ditelan oleh keadaan maupun kondisi yang dialami.

Pekerjaan yang tidak menentu, orang-orang di sekeliling yang membenci kita, keuangan yang selalu berkekurangan, rumah tangga maupun keluarga yang selalu bermasalah, teman pelayanan yang juga selalu bertentangan dengan kita; semuanya itu yang selalu kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi keadaan ataupun masalah yang terjadi tidak boleh menghalangi kita untuk tetap setia di dalam Tuhan. Jangan sampai kondisi tersebut justru membelenggu bahkan memenjarakan hidup kita sehingga kita tidak dapat berbuat maksimal bagi kemuliaan nama Tuhan.

Berikut rahasia dari Rasul Paulus sehingga dia dapat terlepas dari belenggu dan penjara:

1. Doa dan Puji-pujian

*courtesy of PelitaHidup.com
Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka.” Kis 16:25

Penjara tidak membuat Paulus dan Silas bersedih, muram, menangis, putus asa ataupun stres.Tetapi mereka justru menaikkan doa dan puji-pujian kepada Allah. Dipenjara ataupun tidak, tidak menjadi alasan bagi Paulus untuk berhenti berdoa atau memuji Tuhan. Dalam segala keadaan dia tetapi bersyukur kepada Allah, baik dalam keadaan senang maupun susah.

Puji-pujian yang dinaikkan akan membawa kekuatan bagi hidup kita. Terlebih lagi jika kita berada dalam suatu masalah. Ada kuasa di dalam puji-pujian. Tuhan bertahta di atas puji-pujian kita (Maz 22:4).

Bahkan lewat doa dan puji-pujian, kita akan terlepas dari belenggu dan penjara yang mengurung hidup kita.

Akan tetapi terjadilah gempa bumi yang hebat, sehingga sendi-sendi penjara itu goyah; dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semua. ” Kis 16:26
*courtesy of PelitaHidup.com
.

2. Mempererat Hubungan dengan Tuhan

Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.” Fil 3:10-11

Penderitaan yang dialami Paulus tidak membuat dirinya berhenti untuk mengenal Tuhan. Setiap derita dan aniaya yang dialaminya membuat Paulus lebih mengenal Allahnya. Paulus tahu bahwa pengenalan akan Tuhan merupakan suatu hal yang melebihi segalanya. Dan pengenalan akan Tuhan merupakan suatu harta yang begitu berharga yang jauh lebih bernilai dibandingkan segala apapun yang ada di dunia ini.

Oleh sebab itu, penjara tidak membuat Paulus bersedih, karena dia tahu bahwa dia memiliki sesuatu yang sangat berharga dalam dirinya. Dan Paulus tidak mau melepaskan hal itu, bahkan dia ingin lebih lagi mengenal Kristus agar dia dapat memperoleh mahkota yang sudah disiapkan baginya.

Masalah maupun pencobaan diijinkan Tuhan bagi hidup kita agar kita dapat lebih mengenal dan mendekat kepada Tuhan. Sakit penyakit, kebangkrutan, kegagalan dan bahkan pergumulan bertahun-tahun terjadi dalam hidup kita agar kita dapat lebih lagi mempererat hubungan kita dengan Tuhan.

Dan ketika kita semakin intim lagi dengan Dia, maka tidak ada yang dapat menghalangi dan membelenggu semangat hidup kita, oleh karena sesuatu yang berharga telah menjadi bagian dalam hidup kita. Dan kita tahu pasti bahwa setiap janjiNya akan digenapi dalam hidup kita.

Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya. ” Maz 73:25-26

.

3. Berpikir Positif

Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Fil 4:8

Aniaya dan penjara bisa saja membuat Paulus merasa putus asa. Dia bisa saja kecewa dan protes kepada Tuhan. Dan sebagai manusia, dia juga bisa saja mengeluh dan bersungut-sungut. Tetapi yang kita lihat justru segala sesuatu yang positif keluar dari mulutnya. Dia tahu bahwa pikiran yang positif akan membawa dia kepada kemenangan.

Ketika bangsa Israel berada di padang gurun untuk menuju ke tanah perjanjian, banyak dari mereka yang bersungut-sungut atas keadaan yang mereka alami. Sebagian dari bangsa Israel yang bersungut-sungut ini tidak dapat masuk ke dalam tanah perjanjian (Bil 14:27-30).

Ketika kita berpikiran negatif, menggerutu, mengomel dan mengeluh, maka kita sedang melepaskan berkat yang sebenarnya sudah menjadi bagian kita. Marilah kita senantiasa berpikiran positif dalam keadaan seburuk apapun yang kita alami. Dengan demikian maka berkat Tuhan akan mengalir bagi kita. Masalah maupun pencobaan apapun tidak dapat membelenggu hidup kita yang senantiasa berpikiran positif. Kita akan terus melangkah maju meraih kemenangan demi kemenangan.

.

.

Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.” Fil 4:9

Rasul Paulus memberikan teladan yang begitu berharga bagi kita semua. Dia melakukan segala kehendak Bapa di surga dalam setiap langkah hidupnya. Penjara dan aniaya tidak dapat membelenggu hidupnya. Bahkan ketika dia tetap menjaga hidupnya murni di hadapan Tuhan, nama Tuhan semakin dimuliakan.

Demikian juga kita sebagai umat Tuhan, kita harus tetap menjaga hati kita di hadapan Tuhan. Ketiga rahasia di atas akan membawa kita untuk terlepas dari masalah apapun yang membelenggu kehidupan kita. Haleluya!

Thursday, October 8, 2009

PENYERTAAN TUHAN

penyertaan-tuhanBacaan Firman Tuhan, Ulangan 11:12

“Suatu negeri yang dipelihara oleh TUHAN, Allahmu: mata Tuhan, Allahmu tetap mengawasinya dari awal sampai akhir tahun”

Bangsa Israel menghadapi banyak hal-hal yang penting dalam perjalanan mereka ketika hendak mau meninggalkan tanah Mesir dan dalam perjalanan menuju tanah Kanan. Musa yang ditunjuk oleh Tuhan memimpin mereka keluar dari tanah Mesir telah menunjukkan banyak tanda-tanda mujizat, melalui kuasa dan perintah Tuhan dengan 10 tulah. Bangsa Israel harus menempuh perjalanan yang panjang dan penuh dengan tantangan, menyeberangi laut Tiberau, dan perjalanan di padang gurun selama 40 tahun. Perjalanan itu sangat melelahkan untuk memasuki ke tahapan baru, yaitu tanah perjanjian. Tanah Kanan yang dijanjikan Allah itu sangat subur dan diberkati Allah. Tanah Kanan tersebut mendapat suplai air dari danau Galilea yang cukup luas dan berair jernih.
*courtesy of PelitaHidup.com
Kita tahu bahwa perjalanan tersebut dipimpin langsung oleh Allah dengan menempatkan Musa di tengah bangsa Israel sebagai nabi, yang seringkali melakukan pemberontakan kepada Allah. Pemberontakan-pemberontakan yang terjadi dalam bangsa Israel itupun sering muncul menentang kepemimpinan Musa. Adapun sikap yang selalu diambil Musa dalam menghadapi mereka adalah selalu mengarahkan dan membimbing supaya bangsa Israel dapat tetap hidup untuk mengikuti Perintah Allah. Meskipun Musa tidak masuk ke tanah Kanan, namun nasehat-nasehat Musa itu sangat berguna bagi bangsa Israel.

Kita sebagai orang percaya yang telah dipilih Allah, akan selalu banyak mengadapai kesulitan dan tantangan dalam menghadapi arus kehidupan di akhir zaman ini. Dalam 2 Timotius 3:1, dikatakan Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Banyak manusia dalam keadaan ini, telah memilih hidup jauh dari Tuhan, dan mereka mengandalkan kekuatan sendiri. Sekalipun kesulitan dan tantangan pasti selalu ada, itu bukan alasan bagi kita untuk menjauh daripadaNya.

Mau masuk tanah Kanan? Bangsa Israel harus berhadapan dengan musuh-musuh besar. Namun karena penyertaan Tuhan, maka semua musuh dapat dikalahkan. Masa depan merekapun telah disiapkanNYa, yaitu tanah Kanan yang diberkati. Begitu pula hendaknya kita saat ini, kita harus tetap hidup seturut Firman Allah, Tuhan pasti akan memelihara kita senantiasa, pertolonganNya sempurna. Percaya, Dia telah menyediakan berkat yang terbaik bagi kita, bahkan apa yang tak pernah terpikirkan oleh kita akan disediakanNya bagi orang yang sungguh berharap kepadaNya.

Setiap kesulitan dalam hidup ini jangan sampai membuat kita bimbang, putus asa dan membuat iman kita menjadi lemah. Sebaliknya, kita harus semakin mendekatkan diri kepada Tuhan, banyak belajar Firman Allah agar iman kita semakin diteguhkan. Ingat, bahwa Mata Tuhan tetap mengawasi kita orang percaya, dari awal sampai akhir, sampai kita meraih berkat-berkatNya yang telah disediakan bagi kita.

Wednesday, October 7, 2009

Keyakinan Memperkatakan Firman Allah Membawa Berkat

Karena menurut ucapanmu engkau dibenarkan dan menurut ucapanmu engkau akan dihukum.” Matius 12:37
Ketika kita menelusuri Alkitab dengan membacanya dari kitab Kejadian hingga Wahyu maka kita akan menemukan ada ribuan janji/ Firman Allah yang tertulis. Allah tidak hanya memberikan janji-janjiNya itu pada kita supaya kita percaya saja, tetapi supaya kita juga memperkatakan janji-janji Allah itu. Dan melalui ucapan/perkataan, kita dapat memperoleh dua hal yaitu, dibenarkan atau dihukum.Keyakinan Memperkatakan Firman Allah Membawa Berkat
Seseorang dapat berurusan dengan hukum bukan saja karena telah melakukan suatu tindak kejahatan, tetapi oleh karena ucapannya, perkataannya yang dianggap dapat merugikan orang lain. Dalam dunia realitas beberapa kejadian kita melihat bahwa karena ucapannya, seseorang itu dapat berurusan dengan hukum, polisi, dan bahkan sampai ada yang masuk penjara. Di sisi lain, apabila ucapan seseorang itu bermakna, dapat memberi inspirasi, semangat, dan motivasi, maka orang tersebut akan dihargai, dikenal baik, dan dihormati orang. Melalui ucapan seseorang, kita dapat melihat apakah ia orang beriman atau tidak. Begitu pentingnya ucapan itu.*courtesy of PelitaHidup.comMarkus 7:27-30 menceriterakan tentang bagaimana seorang ibu, perempuan Siro-Fenesia yang percaya. Ibu ini memiliki anak perempuan yang kerasukan roh jahat, ia datang memohon kepada Yesus supaya mengusir roh jahat itu dari anaknya. Yesus berkata kepadanya: “Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing”. Tetapi perempuan itu menjawab: “Benar Tuhan. Tetapi anjing yang dibawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak”. Kata Yesus kepada perempuan ini: “Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu”. Sekalipun perkataan Yesus sangat “pedas” kepadanya, namun ibu ini tetap beriman, percaya bahwa Yesus memiliki belas kasih, dan oleh ucapan ibu ini kepada Yesus maka Yesus membalasnya dengan menyembuhkan putrinya. Melalui ucapannya, ibu ini dibenarkan dan menerima berkat dari Yesus, yaitu ia pulang ke rumah ia dapati anaknya sedang berbaring dan setan itu sudah keluar. Masih banyak contoh lain dalam Alkitab tentang hal ini.
Apakah yang saudara ucapkan dalam kehidupan sehari-hari? Apakah ucapan atau perkataan itu menyatakan tentang kegagalanmu, ketidakmampuanmu, kekecewaanmu, kemarahanmu? Boleh saja kita menyatakan hal itu, namun hal itu tidak berguna dan tidak mendatangkan berkat bagi kita. Janganlah ucapkan hal-hal yang sia-sia, karena dapat menambah masalah. Kita harus memiliki ucapan yang membangun, yang sedap didengar, ucapan yang mengundang kuasa Allah terjadi. Kita harus menjaga ucapan kita, berlatihlah setiap hari untuk mengucapkan/memperkatakan Firman Allah, sebab firman Tuhan tertulis dalam Yehezkiel 12:28 “Tidak satupun Firman-Ku akan ditunda-tunda. Apa yang Kufirmankan akan terjadi”.
.
Mengapa kita perlu memperkatakan Firman Allah itu ?
1. Sebagai bukti bahwa kita percaya pada Firman Tuhan
“Namun karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis: ”Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata”, maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata.” 2 Kor 4:13
Kita tidak bisa lari dari kenyataan yang ada, yang sedang terjadi, kita harus menghadapi apapun situasi kehidupan ini, entah itu masalah pribadi, masalah dalam hubungan komunikasi, rumah tangga, masalah pekerjaan/usaha, masalah pendidikan, masalah pelayanan dan lain-lain. Bagaimanapun beratnya masalah yang sedang kita hadapi, kita harus tetap percaya pada Firman Allah, akan pertolonganNya, dengan memperkatakan FirmanNya.*courtesy of PelitaHidup.comJika kita belum memperoleh pertolongan Tuhan, maka kini saatnya mengubah apa yang kita perkatakan. Ucapkanlah Firman Allah dengan yakin, yang lemah berkata “Tuhan adalah kekuatan hidupku, kepadaNya hatiku percaya” (Maz 28:7). Biarlah yang takut berkata: “Tuhan adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? Tuhan adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?” (Maz 27:1). Biarlah yang sakit berkata: ”Oleh bilur-bilurNya aku telah sembuh” (1 Pet 2:24b). Biarlah yang rindu mendapat promosi dalam pekerjaan berkata: “Tuhan akan mengangkat aku kepala dan bukan ekor, aku akan tetap naik dan bukan turun” (Ul 28:13), dan sebagainya.
Ucapkanlah Firman Allah itu sesuai dengan kebutuhan saat ini. Kalau kita sungguh percaya, mulai perkatakan Firman itu, ucapkanlah dengan bersuara, baik siang dan malam, bila perlu dengan suara yang keras agar didengar oleh telingamu. Iman timbul dari pendengaran, pendengaran akan Firman Tuhan.
.
2. Supaya kita dapat bertindak hati-hati, sehingga menjadi berhasil
“Janganlah engkau lupa memperkatakan Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.” Yos 1: 8
Orang percaya akan selalu menjaga ucapannya, sebab dalam mulutnya ada kuasa. Ia tidak akan sembarangan mengeluarkan kata-kata, ia berhati-hati dengan ucapannya. Dalam menyikapi setiap keadaan yang tidak diinginkan, ia selalu memiliki kata-kata yang bermakna. Ia tidak terpengaruh dengan keadaan, tidak berjalan dengan apa yang ia lihat, tetapi ia mau berjalan dengan apa yang ia percayai sampai ia melihat imannya menjadi nyata.
Sebagai contoh kita dapat melihat kehidupan Ayub. Ayub dikatakan sebagai orang saleh dan jujur, ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Tetapi kemudian Ayub harus mengalami penderitaan, hartanya milik habis terbakar, anak-anaknya meninggal, penyakit barah yang harus dideritanya, isterinyapun meninggalkannya. Kadang hal itu diijinkan Tuhan terjadi untuk menguji iman kita. Namun sebelum Tuhan memulihkan keadaannnya dan bahkan Tuhan memberkatinya dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu, Ayub terlebih dahulu mencabut perkataannya.*courtesy of PelitaHidup.com“Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku, dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.” Ayb 42:5-6
Berhati-hatilah akan ucapan yang keluar dari mulut kita, apabila ada suatu ucapan yang tidak sesuai dengan Firman Allah, yang telah diucapkan, maka kita harus segera mencabut perkataan tersebut, supaya tidak menimpa kita. Ambillah keputusan, ucapkan Firman Allah sesuai janjiNya, maka hal itu akan terjadi sebab firman Allah yang kita ucapkan itu mengandung kuasa sehingga mujizat dari Allah terjadi dalam kehidupan kita.
.
“Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang tertulis didalamnya, sebab waktunya sudah dekat.” Wahyu 1:3

Tuesday, October 6, 2009

Sabar Dan Tetap Tenang

Yesaya 30:15 -" Sebab beginilah firman Tuhan Allah,Yang Mahakudus, Allah Israel: "Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu," Tetapi kamu enggan,


Pernahkah anda meminta Tuhan untuk menenangkan badai yang menerpa hidup Anda, tetapi badai itu justru semakin mengamuk? Hana pernah mengalaminya. Saat ia berseru meminta Tuhan memberinya keturunan, ia malah harus siap menghadapi Penina yang tidak penah berhenti mengejek dan memahitkan hatinya. Bertahun tahun Hana bergumul dengan badai hidup itu dan akhirnya ia keluar sebagai pemenang.


Dalam pelayanan konseling yang saya jalani, saya kerap menekankan pentingnya memiliki ketekunan dan ketenangan hati pada waktu mengalami pergumulan yang panjang kepada mereka yang saya layani. Ketika mereka sudah mulai kehabisan kesabaran untuk bertahan di tengah badai yang bahkan semakin mengamuk, saya akan mengirimkan SMS, “Kadang-kadang Tuhan memang menenangkan badai dalam hidup kita, tapi Dia juga sering membiarkan badai itu mengamuk dan menenangkan hati kita.”Ketenangan di tengah-tengah badai itu akhinya dimiliki oleh keluarga Beni tatkala mereka belajar bertekun menantikan pertolongan Tuhan. Beni harus kehilangan pekerjaannya saat ada perubahan struktur organisasi di perusahaan tempat ia bekerja. Isterinya mulai kuatir dan menghitung kekuatan tabungan yang mereka miliki. Hari demi hari Beni berdoa bersama kedua orang anaknya, “Tuhan tolonglah suamiku untuk mendapatkan pekerjaan dan seorang atasan yang baik seperti yang pernah dimilikinya dulu. Dalam Nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.”


Hampir dua tahun sudah suaminya menganggur, sebagai isteri hatinya sedikit gelisah karena tabungan mereka sudah ludes. Tetapi hatinya kembali tenang tatkala ia masuk ke kamar untuk berdoa. Di suatu sore, saat pulang dari kantor ia disambut oleh kedua anaknya bersama Beni . Ada apa ini?” tanyanya. Anak-anak itu berbisik sambil tertawa. “Sayang, sekarang tunjukkan amplop itu pada mama! pinta Beni . Ia menerima amplop coklat yang ia kira adalah surat dari sekolah anak-anaknya. Dengan perlahan ia menarik secarik kertas dan membacanya. Di kertas itu tertera jabatan, gaji dan nama perusahaan yang akan menjadi tempat Beni bekerja. Ia tersenyum sambil mengangguk puas. Ia kembali terkejut saat melihat bahwa yang bertanda tangan adalah atasan Beni yang dulu. Rasa haru menyelimuti hatinya, ia menangis dan tertawa pada saat yang bersamaan.


Mujizat ini sulit dipercaya. Tuhan menenangkan badai saat hati anak-anakNya menjadi tenang.Memang jawaban doa tidak bisa diprogram supaya menjadi seperti yang kita mau, tetapi kita harus tetap percaya bahwa Tuhan selalu menjawab doa kita dengan benar. Tuhan tidak serta-merta langsung mengabulkan semua permohonan kita, karena Dia punya rencana untuk membentuk hati dan karakter kita.


Dengan sukacita jalani proses yang Tuhan izinkan untuk membentuk kita menjadi pribadi yang sabar, tekun dan tetap tenang.

Monday, October 5, 2009

Lyric KAU lah Harapan by Sari Simorangkir

Bukan dengan kekuatanku
ku dapat jalani hidupku
tanpa TUHAN yang disampingku
ku tak mampu sendiri
Engkaulah kuatku
yang menopangku

kupandang wajahMU dan brseru
Pertolonganku datang dari MU
peganglah tanganku jangan lepaskan
KAU lah harapan dalam hidupku

Destinasi Perjalanan Hidup



Yohanes 14:5
"Kata Tomas kepada-Nya: "Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu

Pernahkah timbul dalam benak Anda pertanyaan seperti ini, "mengapa begitu banyak nama jalan beserta nomor rumah di seluruh dunia ini?" Atau bila dipersempit, "mengapa harus ada alamat A, alamat B, di suatu negara dimana kita saat ini tinggal?" jawabannya sederhana, yakni agar mempermudah apabila kita hendak berkunjung atau pun mengirimkan sesuatu melalui pos.

Kita pasti akan kebingungan bila tidak memiliki alamat yang jelas dan tentu menghambat aktivitas kita. Sebagai contoh, bila saya akan melakukan kunjungan ke rumah sahabat saya, tetapi saya tidak memiliki alamat dengan lengkap, yang terjadi tentu saja saya akan tersesat dan bisa saja rencana kunjungan saya itu pun akhirnya gagal oleh karena saya tidak mengetahui arah mana yang harus saya ambil.

Begitu juga dalam kehidupan kita. Hidup yang sementara di dunia ini membuat hati kita bertanya-tanya, "adakah tempat lain setelah kita meninggal?" jawabannya tentu saja ada, karena firman Tuhan menyatakan seperti itu. Namun, untuk menemukan "tempat lain" itu, Anda tidak dapat menemukan di dunia ini karena yang mengetahui alamatnya hanyalah Yesus. Dia lah Penunjuk jalan hidup Anda agar sampai ke surga, ‘tempat lain" itu.

Oleh karena itu, sebelum semuanya menjadi terlambat, mulai lah datanglah kepada Yesus dan akui segala kelemahan dan dosa Anda. Terima Dia sebagai juruselamat pribadi dan biarkan Roh kudus yang tinggal di dalam hati Anda menuntun Anda setiap hari sampai kepada destinasi jalan kehidupan Anda, yaitu surga - tempat yang penuh dengan pujian dan penyembahan kepada Allah Yang Maha Tinggi.

Akhir dari hidup kita sebagai anak-anak Allah adalah tinggal di mana Allah berada dan bertahta.

Friday, October 2, 2009

BERJAGA JAGALAH SEBAB WAKTUNYA SUDAH DEKAT

Ayat bacaan: Lukas 12:35 "Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala."

Musibah seakan tidak berhenti menimpa kita.
Setelah gempa yang menimpa Jawa Barat di minggu pertama bulan September kemarin, musibah gempa kembali menimpa pulau Sumatera. Kembali ratusan orang kehilangan nyawa, ratusan orang kehilangan sanak keluarga dan menderita cedera. Di televisi terlihat banyaknya korban yang masih tertimbun di bawah puing-puing bangunan yang rontok akibat gempa. Begitu banyak orang yang mendadak kehilangan tempat tinggal dan harta bendanya. Kemarin gempa menimpa Sumatera Barat, tadi pagi gempa kembali menimpa Jambi, Bengkulu dan juga gempa berikutnya di tempat yang sama seperti kemarin.

Bencana seperti ini tidak pernah kita inginkan dan berada di luar kekuasaan kita. Ada banyak orang yang mengaitkan serentetan bencana alam yang bukan saja terjadi di Indonesia tapi juga di berbagai belahan dunia lainnya seperti kabut asap berwarna oranye di Australia beberapa hari yang lalu sebagai tanda-tanda akhir zaman. Setuju atau tidak, ini merupakan panggilan bagi kita semua untuk berjaga-jaga, karena tidak ada satupun dari kita yang tahu kapan dunia ini berakhir, atau yang lebih sederhana, kapan kita harus mempertanggungjawabkan diri kita di hadapan tahta Tuhan.

Ini saatnya kita mengimani baik-baik apa yang diperingatkan Tuhan Yesus dalam Lukas 12:35-48. Bacalah seluruh bagian perikop yang berbicara tentang pentingnya untuk meningkatkan kewaspadaan. Tuhan Yesus mengingatkan: "Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala." (Lukas 12:35). Ikat pinggang yang tetap berikat menggambarkan kesetiaan dan ketaatan dalam setiap sisi kehidupan kita, laksana seorang perwira yang akan selalu patuh kepada komandannya. (Yehezkiel 23:15). Ikat pinggang juga merupakan tempat dimana pedang melekat, seperti yang digambarkan dalam 2 Samuel 20:8. Dalam hal ini kita juga diingatkan untuk selalu siap berjaga-jaga mengenakan ikat pinggang untuk menopang pedang Roh, yaitu firman Allah. (Efesus 6:17). Dalam Yesaya ikat pinggang digambarkan sebagai sebuah atribut kekuasaan. (Yesaya 22:21).

Bukankah kepada kita telah diberikan berbagai kuasa, seperti untuk mengalahkan keinginan daging, mengusir setan, menyembuhkan orang sakit dan sebagainya? Bahkan dikatakan bahwa "Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.". (Yakobus 5:16). Sedangkan pelita yang harus tetap dijaga menyala berbicara tentang kesiapan kita untuk terus memastikan roh kita tetap menyala untuk melakukan semua seperti yang dikehendaki Tuhan hingga kedatangan Tuhan Yesus untuk kedua kalinya. Amsal menyatakan "Roh manusia adalah pelita TUHAN, yang menyelidiki seluruh lubuk hatinya." (Amsal 20:27). Dan Paulus mengingatkan "Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan." (Roma 12:11). Pelita juga berbicara mengenai terang yang mampu menyinari kegelapan. Kita selalu diminta untuk mampu menjadi terang/anak-anak terang. Seperti ikat pinggang, kita pun harus selalu sedia dengan pelita yang bernyala, karena pelita yang tajam akan membawa kita dalam kebinasaan dalam murkanya. "Betapa sering pelita orang fasik dipadamkan, kebinasaan menimpa mereka, dan kesakitan dibagikan Allah kepada mereka dalam murka-Nya!" (Ayub 21:17). Menjelang zaman akhir yang semakin dekat, semua kita diingatkan untuk selalu bersiap, berjaga-jaga dengan atribut lengkap ikat pinggang dan pelita yang bernyala. "Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan." (Lukas 12:40).

Kepada yang berjaga-jaga dikatakan demikian: "Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang." (ay 43). Apakah berbagai rangkaian bencana ini merupakan bagian dari tanda-tanda akhir zaman atau tidak, itu bukan masalah yang utama. Yang paling penting adalah bagaimana kesiapan kita menuju kesana, dan firman Tuhan telah mengingatkan kita untuk terus menerus berjaga kapan saja. Jangan melenceng ke kiri dan ke kanan, jangan bertoleransi dengan dosa, karena tidak ada yang tahu kapan sesungguhnya waktu itu akan datang. Jangan lupa pula untuk membaca kitab 1 Tesalonika 5:1-11 mengenai nasehat untuk berjaga-jaga. Disana kita diingatkan kembali mengenai hari Tuhan yang akan datang seperti pencuri di malam hari (ay 2). Jika kita terlena dan terus hidup dalam kegelapan, keteledoran itu akan membawa konsekuensi yang membinasakan. "Apabila mereka mengatakan: Semuanya damai dan aman--maka tiba-tiba mereka ditimpa oleh kebinasaan, seperti seorang perempuan yang hamil ditimpa oleh sakit bersalin--mereka pasti tidak akan luput." (ay 3). Apa yang terjadi bagi kita yang sudah hidup dalam terang? "Tetapi kamu, saudara-saudara, kamu tidak hidup di dalam kegelapan, sehingga hari itu tiba-tiba mendatangi kamu seperti pencuri, karena kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan." (ay 4-5). Oleh karena itulah kita diingatkan agar jangan terlena, tertidur dan bermalas-malasan seperti yang dilakukan oleh sebagian orang, tetapi hendaklah kita selalu berjaga-jaga dan sadar. (ay 6). Semua ini penting agar kita semua tidak luput dari janji Tuhan.

Berjaga-jagalah selalu sebab waktunya sudah sangat singkat. "Saudara-saudara, inilah yang kumaksudkan, yaitu: waktu telah singkat!" (1 Korintus 7:29a)Disamping itu, ingatlah selalu bahwa kita tetap perlu mendoakan negeri kita. Dalam hal ini kita bisa melihat bagaimana Daniel berdoa mewakili bangsanya yang penuh dosa. Daniel tidak terlibat dalam perilaku buruk bangsanya, namun ia menyampaikan doa memohon belas kasih dan pengampunan Tuhan atas bangsanya. (Daniel 9:1-19). Ia tidak memakai kata "mereka" dalam doanya, tapi memenuhi doanya dengan kata "kami", yang artinya melibatkan dirinya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari bangsanya sendiri.

Kebinasaan bangsanya jelas akan berpengaruh pula baginya, demikian pula sebaliknya kemakmuran bangsanya juga akan berpengaruh kepadanya. "Ya Allahku, arahkanlah telinga-Mu dan dengarlah, bukalah mata-Mu dan lihatlah kebinasaan kami dan kota yang disebut dengan nama-Mu, sebab kami menyampaikan doa permohonan kami ke hadapan-Mu bukan berdasarkan jasa-jasa kami, tetapi berdasarkan kasih sayang-Mu yang berlimpah-limpah." (ay 18). Lihatlah betapa indahnya doa penuh kerendahan hati seperti Daniel, yang tidak menimbang-nimbang siapa yang bersalah melainkan langsung memanjatkan doa memohon belas kasih Allah mengatasnamakan seluruh bangsanya. Doa orang benar itu besar kuasanya, dan itu diketahui benar oleh Daniel.
Sudahkah kita menaikkan doa syafaat dengan sungguh-sungguh untuk negara kita? Paulus berkata: "Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan." (1 Timotius 2:1-2). Mengapa demikian? Sebab "itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran." (ay 3-4). Berdoalah agar Tuhan mencurahkan belas kasihNya atas bangsa ini. Apakah ini merupakan bagian dari akhir zaman yang harus digenapi, atau merupakan bentuk murka Tuhan atas dosa-dosa yang dilakukan dan sebagainya, kita tidak perlu terjebak ke dalam pro dan kontra mengenai itu, karena faktanya Tuhan selalu meminta kita untuk berjaga-jaga kapan saja. Waktu memang sudah singkat.

Kita harus bisa berfungsi benar sebagai bagian dari tubuh Kristus yang selalu mendoakan dan memberkati kota dan negara kita. Ulurkan tangan dan bantuan kepada semua korban, karena mereka saat ini sangat menderita dan membutuhkan bantuan dan dukungan baik materi maupun moril. Ini saatnya untuk menjadi terang dan garam. Dan sekali lagi jangan lupa, teruslah berjaga-jaga dengan mengenakan ikat pinggang dan pelita yang tetap menyala, sehingga ketika hari Tuhan itu datang, kapanpun itu, kita akan kedapatan tengah melakukan tugas kita dengan penuh kesiapan dan memperoleh hasil yang baik karenanya.

Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar (1 Tesalonika 5:6)
GBU

Thursday, October 1, 2009

Keluar Dari Jurang Masalah


“Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya Tuhan! Tuhan, dengarkanlah suaraku! Biarlah telingaMu menaruh perhatian kepada suara permohonanku. Jika Engkau, ya Tuhan, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan ? Tetapi padaMu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang. Aku menanti-nantikan Tuhan, jiwaku menanti-nanti, dan aku mengharapkan FirmanNya. Jiwaku mengharapkan Tuhan lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi, lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi. Berharaplah kepada Tuhan, hai Israel ! Sebab pada Tuhan ada kasih setia, dan IA banyak kali mengadakan pembebasan.” Mazmur 130 : 1-7

Saudara yang kekasih di dalam Tuhan Yesus, apakah saudara pernah melihat jurang? Sekalipun kita belum pernah masuk atau berada di dalam sebuah jurang, namun kita dapat mengetahui bahwa jurang itu adalah suatu tempat yang tidak mengenakkan. Dalam jurang kurang terdapat cahaya, bahkan mungkin gelap, tidak ada sesuatu apapun yang bisa diperbuat di sana, jurang bisa begitu amat dalam, sehingga orang yang berada didalamnya tidak mampu keluar dengan usahanya sendiri, sebab tidak ada peralatan yang tersedia untuk bisa dipakai, seperti tali, kayu atau bambu yang cukup panjang untuk digunakan mencapai menuju puncak daratan. Dalam keadaan seperti itu, maka sangat dibutuhkan seseorang/orang lain untuk memberikan pertolongan.

Saudara, jurang di atas dapat pula menggambarkan suasana kehidupan yang sedang kita alami. Suatu keadaan yang kurang nyaman, berada dalam sebuah masalah seperti tekanan/penderitaan, kekecewaan, kegagalan, kehilangan harapan bahkan hampir putus asa. Tidak tahu apalagi yang harus kita perbuat, dan bahkan kita tidak dapat melakukan apapun. Dalam keadaan seperti ini biasanya kita bertanya-tanya, mencari sebab-sebab mengapa masalah itu menimpa kita. Kita bisa saja menyalahkan oranglain, menyalahkan keadaan, atau menyalahkan diri sendiri dan sebagainya. Namun, kadang-kadang jawaban yang kita peroleh itu dapat membuat kita makin frustasi dan meratapinya dengan susah hati.

Kalau hal itu sedang kita alami, jangan bersedih atau bersusah hati, masih banyak hal yang dapat kita perbuat untuk segera bangkit dan dapat keluar dari jurang/masalah kita. Mari kita belajar dari bacaan Firman Tuhan di atas tadi. Kitab Mazmur sering juga kita dengar yang disebut dengan Mazmur Daud, dan yang dipercaya kitab ini ditulis oleh Daud. Masalah yang dihadapi oleh Daud saat itu, ia gambarkan bagaimana keadaan dan suasana hatinya yang sangat pilu itu sama dengan berada dalam jurang yang sepi, gelap dan merasa terbuang.

Saudara yang terkasih di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kita dapat mengambil sebuah pedoman mengenai langkah-langkah iman apa yang harus kita ambil ketika berada dalam sebuah masalah:
Berseru dengan iman, yaitu berdoa. Dalam ayat 1 dan 2, Daud dalam pergumulannya datang merendahkan hatinya kepada Tuhan dan memohon belas kasihNya. Maz 50:15 “Berserulah kepadaKU pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan AKU”. Daud mengutarakan seluruh isi hatinya pada Tuhan.

Berani mengoreksi diri. Dalam ayat 3 dan 4, Daud sendiri mengungkapkan bahwa ia mempunyai kesalahan-kesalahan. Artinya, banyak masalah terjadi yang tengah dihadapinya adalah karena akibat dari perbuatan-perbuatannya sendiri . Ia mengakui kesalahan-kesalahan itu kepada Tuhan. Siapakah yang dapat tahan, jika Tuhan mengingat-ingat kesalahan-kesalahan kita ? Tidak seorangpun yang dapat tahan. Namun kita bersyukur atas FirmanNya, dalam 1 Yoh.1:9 “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan”. Daud mengetahui bahwa hanya pada Tuhan saja ada pengampunan. Allah akan memberi pengampunan kepada orang yang mau bertobat dan mengakui dosa/kesalahannnya. Allah akan menyembuhkan dan memulihkan mereka yang datang dengan hati yang jujur. Allah ingin menunjukkan kasih setiaNya kepada semua orang yang berada dalam kesulitan, supaya mereka dapat mengenal kasih, perhatian dan kebaikan-Nya.

Percaya pada Firman Tuhan. Dalam ayat 5 dan 6, Daud menantikan Tuhan dan mengharapkan Firman-Nya. Seperti Daud juga katakan, “ Inilah penghiburanku dalam sengsaraku, bahwa janjiMu menghidupkan aku”, Maz.119:50. Daud tidak berdaya, dia tidak bisa berbuat apa-apa oleh karena hanya Allah sendiri yang dapat mengampuninya,sebab itu ia percaya hanya Tuhan dan menantinya. Jiwa Daud menanti, itu adalah pusat dari kepribadian manusia. Tuhan saja yang sanggup menolongnya, karena itu ia sangat mengharapkan Tuhan. Daud katakan, lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi, sampai 2 kali, ini menunjukkan pada kehebatan kerinduannya,dan pengharapannya pada Tuhan. Daud berfokus pada Tuhan dan FirmanNya. Daud sangat yakin bahwa Firman Tuhan itu pasti terjadi atas dirinya.

Tetap berharap dan sabar menantikan Tuhan. Dalam ayat 7, melalui pengalamannya itu Daud menyerukan kepada kita orang percaya supaya berharaplah kepada Tuhan ! Orang yang berharap pada Tuhan, tentunya tidak pernah jemu, tetapi dengan sabar menanti-nantikan pertolongan Tuhan tiba. Sebab hanya pada Tuhan ada kasih setia, dan DIAlah sang pembebas kita.

Saudara yang terkasih, mari belajar dari apa yang telah Daud lakukan ketika ia berada dalam jurang masalah. Daud berseru pada Tuhan dalam doa, mau mengoreksi diri sendiri, tetap percaya pada Firman Tuhan dan berharap serta sabar menantikan pertolongan Tuhan. Kalau kita mau melakukan seperti yang telah dilakukan oleh Daud, maka Tuhan pasti menolong kita, Tuhan akan mengeluarkan kita dari jurang masalah kita. Tuhan sanggup lakukan itu , memberi pertolonganNya pada kita, memberikan jalan keluar dari setiap masalah kita, menyembuhkan kita dari sakit penyakit, mengangkat kita, dan memulihkan keadaan kita. Amin!


Tuhan Yesus Kristus memberkati saudara